Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 14, 2014

Aisyah

Di realita, sosok ini begitu mengerti
Tapi mimpiku sulit kukendali
Harusnya kamu yang tau diri
Jangan masuk mimpiku lagi

Bahwa cinta memang hanya kita berdua
Tapi komitmen yang kompleks ini menyeret-nyeret hati kita untuk mengerti apa pun mau mereka

Lingkaran hidup akan mengetuk sadar kita
Kadang menjadi utama, tak jarang dinomordua
Hingga akhirnya cinta yang sama bersua

Cinta yang saling mengisi, menjaga
saling membutuhkan, mendoakan
Bahwa aku merasa mati
Jika tak ada kamu
Pun kamu begitu

Semoga jika sudah
PadaNya lah akhir cinta kita bermuara
Pada pertemuan kembali sesudahnya
Yang abadi, yang selamanya
Surga

Selamat tidur sayang
Dimanapun kamu berada malam ini
Aku akan menjemput dalam doa sepertiga malam
Dan pada kenaikan matahari

Kebayoran, 13 Agustus 2014

Sabtu, September 22, 2012

All Out

Jika kau meminta hujan
Pastikan kau meminta ia turun dengan penuh
Karena cinta takkan setia
Jika yang kau harap hanya gerimis

 

Rabu, Maret 30, 2011

Traveler Nestapa


Aku mencintamu seperti kabut menebal
di lereng Merapi, sepi...
Aku merindumu seperti gemuruh
ombak menerjang Kuta, penuh...
Aku kehilanganmu seperti jeram
melepas percik Citarum, pasrah...

Senin, November 10, 2008

Wahai Sang Pembolak-balik Hati

Yaa... Mukalibal Qulub....

Dulu.... 


Aku bertanya-tanya, apakah dia merasakan apa yang aku rasa. 


Apakah dia akan membalas cinta yang lama aku pendam untuknya. 


Inginkah dia mengorbankan masa mudanya yang gemilang, demi hidup bersamaku, berbagi suka dan duka, yang mungkin akan lebih banyak dukanya. 


Sudikah iya merelakan sebagian cerita dalam cangkir emas kehidupannya, untuk kemudian berbagi dalam cangkir lusuh cerita hidupku, yang bisa saja membuatnya kehilangan muka di depan kerabatnya.

Yaa... Mukalibal Qulub....


Dulu aku bertanya-tanya, maukah dia berperan seperti Khadijah, sentiasa memberikan dukungan dalam setiap langkah yang ditempuh Sang Nabi. 


Maukah dia menjadi putri, menepis kejijikan, mencium kodok buruk rupa, demi mengubah kodok itu menjadi pangeran. 


Inginkah dia menjadi Cinderella...
tertinggal sepatu kacanya sepulang berdansa, untuk kemudian ditemukan oleh Pangeran agar mereka dapat kembali bersama. 


Sudikah dia menjadi Juliet, meminum racun kehidupan, membuatnya mati suri, agar dapat melihat Romeo yang terkasih saat ia terjaga, hanya untuk ditinggal mati Romeo, dan kemudian menyusul Romeo ke alam baqa. 


Relakah ia seperti Cinta, ditinggalkan Rangga ke luar negeri saat baru saja mereka merasakan indahnya bersama, walau ditinggal hanya untuk satu purnama.





Yaa... Mukalibal Qulub....

Betapa bahagianya aku, saat ia mengucapkan kalimat itu. Berjuta senang di hatiku, mendengar kata-kata ya terukir dari indah bibirnya. Merinding bulu di tangan dan leherku, saat mendengar dia menjawab, pelan saja.. Dia bilang... 


"Ya....aku....mau..."

Ahhh.....Mukalibal Qulub, taukah Engkau apa yang aku rasa waktu itu.... Aku seperti terbang. Ya, terbang, walaupun Kau tak memberiku sayap, aku terbang. 


Tinggi... jauh.. saangatt tinggi 
Menuju langit menggapai surga, menebarkan angkuhku pada bumi. 


Satu per satu segala benda di bawah sana menjadi semakin kecil, tak berarti kecuali pengganggu kesenanganku saja. 


Dan saat itu, aku benar-benar bersyukur pada-Mu, pada keagungan takdir-Mu, dan pada rahmat kasih sayang-Mu.


Sekarang...iya benar... sekarang... 
Saat ini...
aku bertanya-tanya...


Masihkah aku setia mencintainya...


Yaa Mukalibal Qulub, Sabbit Qolbi, 'Aala Diinika Wa 'Aala Tho'aatika, Subhaanaka Inni Kuntuminadzdzhoolimiin..

Kamis, November 06, 2008

Kalau Lagi Kasmaran

Dia : Assalamu’alaikum abi…

Aku : ‘Alaikumussalaam ummi, udah nyampe sekolah mi?

Dia : Alhamdulillah sudah, abi udah di kantor nih?

Aku : Iyah… Baru aja nyampe. Ummi langsung ngajar?

Dia : Nggak, cuma ngabsen anak2 aja dulu. Ada apa nih, tumben nelpon pagi2?

Aku : Mmmm….nggak, Cuma pengen denger suara merdu ummi aja…

Eh… Udah dulu ya… Assalamu’alaikum (dengan nada sok buru2

Dia : Wa’alaikumsalaam…eh…abi…tunggu…bi…


Ceklek…tuut..tuutt…tuttt


Aku : (Kembali ke laptop, larut dalam pekerjaan, seolah gak terjadi apa2)

Dia : (Menggenggam handphone, menatap foto ku, tersenyum-senyum sendiri….)